bangga dengan Timnas


Garuda di dadaku…
Garuda kebanggaanku…
Ku yakin hari ini pasti menang…

Riuhnya lantunan lagu itu serasa membuat hati para penikmat sepakbola tanah air bangga dan seakan hanya satu yang dimiliki, yakni “Indonesia”. Betapa tidak lantunan itu lahir dari para suporter yang berasal dari klub, warna kaos, dan daerah yang berbeda-beda di Indonesia, tetapi mereka sadar bahwa dengan kesatuan rasa cinta pada Indonesia adalah jalan terbaik yang dipilihnya. Kelak, segala harapan diletakkan pada punggawa-punggawa garuda untuk tetap berprestasi dalam hal sepak bola.

Namun akhir-akhir ini rasa kebanggan pada Timnas Sepakbola Indonesia sedikit terusik dengan cara yang dipakainya demi sebuah prestasi. Yakni mendatangkan pemain sepakbola keturunan untuk membela sepakbola Indonesia atau biasa disebut naturalisasi. Cinta Timnas Sepakbola Indonesia, bukan berarti harus menciderai rasa bangga kita pada Indonesia. Hanya karena alasan gagalnya Timnas Sepakbola Indonesia baik di pentas regional maupun internasional, lantas naturalisasi dijadikan jalan untuk menutupi segala kekurangan yang ada dalam tim. Lalu bagaimana dengan pembinaan yang selama ini dijalankan? Bagaimana sistem yang dibangun? Naturalisasi pemain asing jangan melulu disanjungkan, masih banyak putra-putra terbaik bangsa yang siap menerbangkan garudanya. Walau juga tidak mengkesampingkan hak mereka sebagai warga Negara Indonesia.

Apa itu Naturalisasi?

Naturalisasi adalah proses pemberian (grant) hak kebangsaan atau warga negara kepada orang asing. Mereka sebagai pemohon, akan melewati berbagai macam tahap seleksi (screening test) sesuai dengan kualifikasi hukum yang telah ditetapkan.
Proses ini bisa diberikan melalui dua proses.
1.Proses kesadaran diri (sukarela)
Kewarganegaraan diberikan kepada pemohon yang lolos aplikasi atau melalui proses standar hukum (legal), proses pernikahan warga asing dengan warga negara, atau melalui proses adopsi anak.
2.Proses non kesadaran (non sukarela)
Kewarganegaraan ini diberikan kepada warga negara yang tinggal disuatu daerah dimana daerah tersebut dikuasai (aneksasi, dicaplok) oleh negara lainnya. Penguasa ini akan memberikan status warga negara baru kepada penduduk asli.
Persyaratan naturalisasi ini antara lain :
– Waktu tinggal minimum
– Usia minimum
– Taat hukum
– Kondisi kesehatan yang baik
– Memiliki wawasan yang baik mengenai negaranya yang baru
– Dan yang terpenting adalah : mau menanggalkan kewarganegaraan lamanya
Maka siapapun yang bisa memenuhi persyaratan dan dengan baik mengikuti jalannya proses naturalisasi bisa dikatakan sah menjadi Warga Negara Indonesia, tanpa terkecuali atas persetujuan DPR dan Menpora.

Tidak disalahkan jika mereka yang “dipura-purakan” oleh UU dengan sikap dan ketegasannya menyatakan “ini adalah panggilan Ibu Pertiwi” dan juga punya hak untuk menjadi warga Indonesia serta membela Timnas Sepakbola Indonesia. Tetapi jangan lantas berlindung dari ketidakmampuan bangsa kita, mereka bagitu tegas menyampaikan kebanggaan dan kelihaiannya dalam bersepakbola, kemudian menanggalkan hak anak bangsa yang lahir dan merasakan pahit manisnya problem bangsa ini. Pembinaan yang bersinergi dengan sistem pelaksaan adalah kunci keberhasilan sepakbola Indonesia ke depan.

Nasionalisme dan Sepakbola

Bicara moral memang jauh dari sepakbola. Sepakbola adalah olahraga yang paling populer di tanah air tercinta ini. Sepak bola adalah olahraga rakyat, dimainkan di desa-desa terpencil, juga di kota-kota megapolitan sekalipun. Sepak bola biasanya dibentuk dengan penyatuan kelompok-kelompok dari desa, kota, dan wilayah berbeda. Integrasi nasional macam ini mengikuti aturan yang sudah teruji. Hasilnya adalah partisipasi orang per orang dalam sepak bola secara keseluruhan akan memperkuat basis sense of national unity.

Terasa kontras ketika menyimak unek-unek yang disampaikan oleh mantan pelatih Timnas Indonesia, Peter White. Menurutnya, pemain Indonesia memiliki skill terbaik di ASEAN. Namun masalah Indonesia ada pada kebanggaan menjadi pemain nasional. Ia membandingkan pemain-pemain kita dengan pemain Thailand yang juga pernah dilatihnya. Pemain Thailand selalu termotivasi oleh Raja dan negaranya. Tetapi banyak pemain Indonesia justru lebih berpikir soal uang, meski itu tidak buruk dalam kaitannya dengan nafkah hidup. Apalagi pemain-pemain timnas rata-rata berasal dari kelas ekonomi bawah. Tidak munafik memang, kesejahteraan para pemain sangat perlu diperhatikan. Maka pergeseran nilai-nilai tersebut semakin membuat sulit untuk membandingkan kebanggaan prestasi sepakbola Indonesia dengan negara lain. Laos yang biasanya menjadi lumbung gol, kemarin mampu mempecundangi Indonesia. Irak yang berkutat dengan bom bunuh diri telah mampu mengangkat trofi Piala Asia. Thailand sudah berani pasang target lolos putaran final Piala Dunia 2018. Korea Selatan bahkan sudah sampai semifinal Piala Dunia.

Apa jadinya jika mereka yang bermain dan secara sadar kita menontonya, bukan murni lahir dan dibesarkan dengan haru biru bangsa ini melangkah. Nama yang disematkan pada kaos kebanggan sepakbola kita pun, bukan nama khas dari deretan nama-nama yang lahir di antara suku, agama, dan ras yang ada di Indonesia. Juga mereka (naturalisasi) tahu bagaimana bicara dalam bahasa Indonesia, juga mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Membangun sepakbola Indonesia, berarti membangun semangat kebangsaan. Lagu Indonesia Raya hanya dikumandangkan kala acara-acara kenegaraan juga dalam hal olah raga yang disana mempertaruhkan Indonesia. Bisa dibayangkan jika kelak sepakbola Indonesia kuat, berprestasi tanpa pemain naturalisasi, alangkah bangganya seluruh warga Indonesia. Tetapi apa yang terjadi jika sebaliknya. Tidak bisa dimungkinkan, namun itulah kenyataan yang terjadi baik diterima maupun tidak diterima, bahwa membangun nasionalisme dalam tim sepakbola adalah sangat dekat untuk dilakukan.

Benahi sistem dan pembinaan sepakbola Indonseia.

Saya tulis ketika sulit, susah, dan mahal untuk sekedar nonton Tim Merah Putih, Tim Kebanggaan Rakyat Indonesia yang bermain di Gelora Bung Karno melawan philipines. Semangat garudaku, semangat sepakbola Indonesia.

Pos ini dipublikasikan di campuran. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s